sedikit, tentang NYA


ADA yang menggelitik—sekaligus menggugat. Seorang pemeluk kebathinan jawa bercerita, yang 30 tahun kemudian ditulis ulang oleh Goenawan Mohammad, perihal Yesus dan Setan. Ketika Tuhan memanggil sang Raja Kegelapan, “Setan, beberapa saat lagi akan lahir Yesus. Dan, engkau tak akan mampu lagi menguasai jiwa manusia”. Setan tertunduk, ia habiskan beberapa hari, dalam gelap kamarnya. Berpikir. Apa yang harus ia lakukan. “Ini soal eksistensi kesetanan saya”, bathinnya.

Kemudian, dalam gelap ia menemui Tuhan. “Aku telah menemukan sebuah jawaban untuk menandingi Yesus”.

Apa?”

Organisasi”. Dan, Setan meninggalkan Tuhan—kembali bekerja—dengan sama yakinnya seperti saat ia berhasil menggoda Adam & Eva makan buah “pengetahuan”.

* * *

AGAKNYA setan telah memberikan jawaban yang sangat mengejutkan. Bertentangan dengan akal sehat dan paradigma berpikir orang-orang moderen hingga hari ini. Bukankah organisasi diciptakan untuk tujuan-tujuan besar, menyatukan kekuatan dan menggapai tujuan bersama. Setan berpikir lebih jauh.

Organisasi lahir, dan menjadi kuat. Yang terjadi adalah, penciptaan Tuhan yang “lain” dari Tuhan sesungguhnya. Tuhan, milik para elit pentafsir dalam organisasi. Saat itulah ketika Gereja, sebagai sebuah organisasi suci mampu—dengan sedemikian rupa—mengeluarkan klaim soal benar dan salah, hitam dan putih. Termasuk mematikan sains dan pencetusnya lantaran dipandang bertentangan dengan tafsir Gereja. Baik atas tata surya, teori penciptaan, hingga sekedar soal teropong bintang. Disinilah, substansi Tuhan, Agama, bahkan sekedar perihal surat pengakuan dosa di kacaukan sedemikian rupa.

Hal ini tentu tidak saja terjadi pada satu agama tertentu. Ikhtiar pencarian kebenaran hakiki dihadang sedemikian rupa, dengan satu mantra luar biasa, “apa yang anda ungkapkan bertentangan dengan firman Tuhan”. Kemudian selesai, itu dapat berarti hukuman mati. Soal sains dan teknologi misalnya, atau minimal tentang kebebasan berpikir. Satu fiksi yang sangat diyakini, bahwa agama bukan soal logika. Agama adalah ruang lain dimana hanya ada iman, keyakinan, sepi, ikhlas, penyerahan diri. Tapi saya bilang, Tidak !. Meskipun para pentafsir terus akan bicara, “Tuhan dan agama bukan untuk dilogikakan, tidak mungkin diukur dari labu-labu berisi cairan atau teropong bintang super modern”.

Disinilah. Selalu di batas ini, persinggungan antara pengetahuan dan agama akan jadi pertarungan dua banteng yang sama-sama “keras kepala”. Satu menegasikan pengetahuan, satu lainnya yakin bahwa ia akan menemukan Tuhannya dengan cara sendiri. Atau bahkan teguh pada pendirian logikanya, tidak ada Tuhan. Dunia adalah materi.

Namun, bukankah Tuhan—Tuhan manapun—tidak pernah bilang bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang terlarang. Toh, Dia menciptakan pengetahuan, dan mungkin saja itu adalah salah satu jalan menuju-Nya. Tapi, kenapa seolah agama melarang? Agama itu sendirikah yang melarang? Jika belajar dari sejarah, jelas tidak. Agama justru lebih muncul dalam personifikasi organisasi yang mengklaim kebenaran atasnya. Organisasi dengan para pentafsirnya sedemikian rupa mempersempit jarak, membutakan, dan membunuh keingintahuan manusia. Hingga, sains, teknologi, pengetahuan, atau apapun namanya harus divonis mati jika mengeluarkan teori yang berbeda dengan tafsir ajaran agama. Semua dikuasai organisasi.

* * *

Berpikir mempunyai resiko, tidak berpikir pun beresiko. Tapi mana pilihan yang akan lebih mengantarkan kita pada sesuatu yang lebih baik? Berpikir. Atau dalam artian lain, Iqra’. Bahkan ajaran ini pun dinegasikan sedemikian rupa. Sama saja. Jika Gereja—yang dikabarkan sangat menentang teori Galileo—melakukan klaim kebenaran dan membumi hanguskan kesesatan. Islam pun—dalam prakteknya—punya sisi demikian. Para ulama dengan organisasi dan atas nama organisasi melarang keras pengukuran Tuhan dengan pendekatan empiris atau ilmu pengetahuan. Dan, banyak agama lain pun melakukan hal yang kurang lebih sama. Bersikukuh pada argumentasi, bahwa Tuhan dan Agama adalah satu yang tidak terukur dengan rasio. Padahal, apakah benar Tuhan sangat sendiri, sepi seperti itu? Belum tentu.

Karena kita paham, ribuan larangan bahkan resiko kecaman untuk dikategorikan kafir adalah satu proses untuk menentang, mengalahkan dominasi “organisasi” yang berlebihan. Karena, setan tidak boleh menang dan membuktikan bahwa kemenangan setan adalah saat orang-orang menganggap ia tidak ada. Dan, kita tidak akan menunggu Nietzsche untuk membunuh Tuhan, atau bahkan Marx untuk bilang, “agama adalah candu”. Terakhir, karena rasio, pengetahuan dan sains ini adalah satu cara menemui-Nya. Organisasi tidak berhak jadi perintang manusia menemui Tuhannya. (*)

—————

Febri Diansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s