Mengikis Generasi Sepuh MA

“Pada satu siang, ICW mengadakan acara “Tumpengan” dan Aksi Yoga di depan Mahkamah Agung, sebagai ungkapan syukur, sindiran sarkas, sekaligus kecaman. Silang sengkarut masalah di MA harus mulai diselesaikan dengan regenerasi. Bukan Yoga”.

“Rezim tua” di Mahkamah Agung (MA) pada akhirnya dapat dikikis sedikit-demi sedikit. Berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 87/P tahun 2008 yang diterbitkan 10 Oktober 2008 lalu, maka secara hukum, seharusnya 8 Hakim Agung yang tercantum namanya sudah harus meninggalkan MA.

Sesuai dengan Pasal 11 UU No. 5 tahun 2004 jo UU No. 14 tahun 1985 tentang MA, Hakim Agung diberhentikan oleh Presiden atas usul Ketua MA. Artinya, pasca Kepres ditandatangani Presiden, maka Hakim Agung yang memasuki umur 67 tahun sudah harus berhenti. Dengan demikian, sampai akhir bulan Oktober 2008, 7 Hakim Agung (selain German Hoediarto (24/11/1941) harus pensiun. Yaitu; Susanto Adi Nugroho (Lahir: 4/7/1941); Titi Nurmala Siagian (26/8/1941); M. Bahauddin Qaudry (15/9/1941); Bagir Manan (6/10/1941); Mariana Sutadi Nasution (12/10/1941); Parman Soeparman (13/10/1941); dan Kaimuddin Salle (23/10/1941).

Pensiun 8 hakim agung tersebut menjadi fenomena penting karena terjadi saat proses pembahasan RUU MA dibajak sedemikian rupa oleh sejumlah fraksi di DPR dan tim dari Pemerintah. Pembahasan dilakukan dengan tertutup, tergesa-gesa dan minus partisipasi publik. Salah satu pasal yang kontroversial terletak pada perpanjangan usia pensiun menjadi 70 tahun. Sebuah persekongkolan jahat yang ingin mempertahankan kekuatan status quo di MA. Karena itu pulalah, diberhentikannya sejumlah Hakim Agung secara resmi melalui Keppres patut disyukuri. Setidaknya, satu lapis generasi paling tua di MA akhirnya dikeluarkan dari lingkaran dalam institusi Kekuasaan Kehakiman Indonesia.

Citra MA yang tidak kunjung membaik dari tahun ke tahun dibawah kepemimpinan Ketua MA dan sejumlah Hakim Agung lapis paling tua merupakan catatan yang mengantarkan MA menjadi salah satu institusi terburuk di Indonesia. Bahkan dimata Internasional. Dari aspek pengelolaan keuangan, anggaran yang selalu meningkat signifikan dari tahun 2005-2008 hingga mencapai Rp. 12,96 triliun ternyata tidak dikelola dengan baik.

Pada semester II tahun 2007 BPK menyatakan disclaimer pada laporan keuangan MA, sebuah istilah yang menunjukan penilaian terburuk untuk laporan keuangan. Berdasarkan audit BPK semester I tahun 2007, dari Rp. 5,82 Miliar temuan penyimpangan di MA, tidak Rp. 1 pun yang ditindaklanjuti (0%). Dan, hanya 0,27% tindak lanjut yang dilakukan pada semester II tahun 2008. Hal ini menunjukkan sangat rendahnya tingkat kepatuhan MA terhadap rekomendasi BPK. Belum lagi, saat ini KPK sedang melakukan penyelidikan terhadap dugaan korupsi Biaya Perkara di MA. Sekitar Rp. 31,1 Miliar biaya perkara di MA tidak jelas pengelolaannya.

Dari aspek semangat pemberantasan korupsi. MA pun gagal membawa gerbong peradilan umum menjadi institusi yang punya andil terhadap pemberantasan korupsi. Trend vonis bebas justru meningkat dari tahun ke tahun. Dari 1184 terdakwa kasus korupsi yang berhasil dipantau ICW dari tahun 2005-Juni 2008, hampir 500 terdakwa di vonis bebas. Rata-rata vonis yang diberikan pun hanya 20 bulan untuk tingkat peradilan seluruh Indonesia, dan 6,43 bulan khusus kasus yang diputus di MA. Dengan kata lain peradilan umum dibawah kepemimpinan MA justru menjadi institusi yang menghambat pemberantasan korupsi. Apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki institusi ini?

Selain pembersihan MA dari mafia peradilan melalui jalur penindakan oleh KPK, memperkuat pengawasan eksternal oleh Komisi Yudisial dan reformasi birokrasi total, sesungguhnya jurus Potong Generasi paling urgent dilakukan. Artinya, terlepas dari adanya beberapa hakim agung usia tua yang masih bersih, semangat regenerasi selayaknya patut dilakukan untuk kepentingan yang lebih luas. Lapis demi lapis hakim dengan usia 66 dan 67 tahun sudah saatnya meninggalkan MA. Karena institusi ini harus diisi oleh “darah baru”, semangat baru, dan paradigma baru. Bukan justru mempertahankan sekelompok status quo yang ternyata punya andil membebaskan terdakwa kasus korupsi.

Dengan demikian, pemberhentian 8 Hakim Agung pada usia 67 tahun merupakan berkah awal yang patut disyukuri. Karena itulah penerbitan Keppres harusnya lebih dilihat sebagai langkah awal membersihkan MA, atau semacam dorongan “potong generasi” tanpa perlu harus bertabrakan dengan aturan hukum ataupun Hak Asasi Manusia.

Akan tetapi, pemberhentian 8 Hakim Agung sama sekali tidak cukup. Tuntutan utama agar usia pensiun Hakim Agung tidak dinaikan menjadi 70 tahun masih terus menjadi desakan. Aliansi sangat mengecam sejumlah anggota DPR dan bahkan advokat/pengacara senior yang mendukung perpanjangan usia pensiun tersebut melalui revisi UU MA. Usulan tersebut lebih menonjolkan kesan adanya kepentingan sempit sekelompok elit politik dan advokat. Sampai saat ini tidak ada logika rasional untuk memperbaiki dan membersihkan pengadilan yang ditawarkan kelompok pendukung usia 70 tahun.

Karena itu, publik akan lebih mendorong agar Hakim Agung yang tahun depan akan berusia 67 tahun segera mengajukan pengunduran diri. Khusus untuk calon Ketua MA, dengan asumsi usia pensiun tetap 67 tahun maksimal, maka sebaiknya dipilih dari Hakim Agung yang berusia dibawah 65 tahun. Agar, kepemimpinan Ketua MA yang baru dan program-programnya dapat dijalankan lebih efektif (minimal 2 tahun masa kepemimpinan). Dan, hakim agung berusia diatas 65 tahun bisa fokus menyelesaikan tunggakan perkara. Dengan demikian, harapan tentang independensi tak perlu dikotori oleh tangan-tangan fraksi yang mempolitisir pasal-pasal krusial di Rancangan Undang-Undang MA. (*)

FEBRI DIANSYAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s