Kaleidoskop Pemberantasan Korupsi 2012

Setelah melewati masa yang genting di penghujung tahun 2011, pemberantasan korupsi terasa mulai berdenyut di tahun 2012. Kita melihat harapan, sekaligus ancaman. Kesempatan untuk memperkuat KPK, nyaris sama besarnya dengan perlawanan balik koruptor. Apa saja yang terjadi di tahun 2012, dan apa yang bisa dilakukan setelah “kiamat” dibatalkan di akhir tahun 2012 ini?

Jika kita sisir ulang perjalanan pemberantasan korupsi sepanjang tahun ini, bagian yang paling menyentak menurut saya adalah apa yang terjadi di bulan Desember. Bukan karena kita hanya mempunyai ingatan yang pendek sehingga hanya mencatat apa yang terjadi dalam waktu dekat. Tidak. Tidak terbayangkan dalam sebuah perayaan kenegaraan hari anti korupsi internasional dan hak asasi manusia, seorang Presiden yang memenangkan pemilu dua kali berturut-turut dengan kampanye pemberantasan korupsi yang kurang lebih mengatakan kita harus melindungi koruptor.

Meskipun ia menjelaskan atas dua klasifikasi koruptor, dan yang perlu dilindungi adalah korupsi karena ketidaksengajaan dan kurangnya pengetahuan pejabat Negara. Akal sehat kita dihentakkan hingga mungkin sulit berkata. Karena, tidak mungkin seseorang dinyatakan terbukti melakukan korupsi jika faktor kesengajaan tidak dibuktikan di pengadilan. Mungkin Presiden tidak pernah tahu bahwa dalam proses peradilan dan keputusan, hakim wajib menguraikan bagian pertanggungjawaban pidana dan kesalahan yang di dalamnya tercakup unsurk kesengajaan. Demikian juga dengan alasan pejabat tidak tahu hukum. Logikanya bisa dibalik, jika tidak tahu hukum, kenapa jadi pejabat? Apalagi kita tahu, ada sebuah fiksi hukum yang ratusan tahun diterima dan diterapkan, bahwa setiap orang dianggap tahu hukum. Jika warga Negara saja dianggap tahu hukum, bagaimana dengan pejabat yang pada tangannya dititipkan nasib rakyatnya dan bahkan difasilitasi Negara dengan minimal organ staf bagian hukum? Kami yang nyaris kehabisan kata-kata menyebut pidato itu sebagai dagelan yang paling tidak lucu di tahun ini. Bagaimana tidak, tersangka terakhir yang ditangani KPK sebelum pidato itu adalah putra “kesayangan” Partai Demokrat, dimana Presiden adalah Ketua Dewan Pembina partai tersebut.

Meneropong Jauh
Membaca realitas pemberantasan korupsi tahun 2012 tidak mungkin bisa dilepaskan dari sebuah lembaga yang memenuhi ruang publik di tahun ini. Komisi Pemberantasan Korupsi. Lembaga yang diharapkan, tapi juga dicaci maki karena menjerat kolega, kawan atau pihak tertentu dalam kasus korupsi.

Sampai dengan Desember 2012, tercatat KPK telah menangani 180 perkara, dengan rincian: penyelidikan 53 perkara, penyidikan 44 perkara, penuntutan 33 perkara, inkracht 24 perkara, dan eksekusi 26 perkara. Di tengah keterbatasan lembaga ini bisa menggeliat kembali pasca serangan beruntun terhadap pimpinan jilid II hingga akhir masa jabatan mereka. Sejumlah kasus-kasus strategis seperti Skandal Bank Century, Hambalang, Driving Simulator di Korlantas Mabes Polri, kelanjutan kasus Nazaruddin, suap terkait izin perkebunan di Buol yang menyasar aktor besar di lingkaran inti kekuasaan partai Demokrat, pengadaan Al-Qur’an dan alat laboratorium untuk Mardasar Tsanawiah, hingga suap terhadap Hakim Ad Hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Semarang. Sejumlah nama terkenal pun masuk dalam daftar orang yang diproses KPK. Sebutlah Miranda Swara Gultom, Wa Ode Nurhayati, Anggelina Sondakh, Irjen Pol Djoko Susilo, Hartati Murdaya, Andi Alfian Malaranggeng, dan lainnya yang sangat mungkin akan terus bertambah.

Badai Menghantam
Tapi tentu tak semua orang suka KPK. Di tengah kerja keras yang dilakukan lembaga ini, hantaman masih belum berhenti ditujukan pada KPK. Bahkan, ketika KPK melakukan penyidikan dugaan korupsi proyek Driving di Korlantas Mabes Polri, badai semakin menggila. Penggeledahan yang dilakukan KPK di kantor Korlantas sempat terhambat. Tidak ada yang bisa memperkirakan sebelumnya penggeledahan yang dimulai Pk. 16.00 WIB tanggal 30 Juli 2012 itu baru berakhir setelah melewati sejumlah ketegangan dan “perlawanan”, hingga KPK bisa membawa barang bukti malam esok harinya, sekitar Pk. 19.40 WIB 31 Juli 2012.

Drama penggeledahan ini tercatat sebagai salah satu hari yang menegangkan selain kejadian Jumat malam di KPK, ketika 5 Oktober setelah Irjen Djoko Susilo diperiksa KPK pertamakalinya, sejumlah anggota Polri dari Bengkulu dan Polda Metro Jaya mendatangi KPK dan ingin menangkap salah satu penyidik KPK, Novel Baswedan dan ingin menggeledah KPK tanpa surat perintah pengadilan. Insiden ini tentu membuat marah masyarakat. Setelah sebelumnya Polri dikritik keras karena bersikukuh ingin “merebut” kasus yang sudah ditangani KPK, sekarang upaya kriminalisasi akan dilakukan pada seorang penyidik KPK yang justru dikenal baik dan menangani sejumlah kasus korupsi kakap. Sejak tengah malam hingga subuh, ratusan massa menyemut di Gedung KPK. Mereka ingin mempertahankan KPK dari upaya penangkapan terhadap penyidik KPK tersebut. Namun, berita mengejutkan muncul malam itu, Kapolri mengaku tidak tahu adanya rencana penangkapan oleh anggota Polri di KPK malam itu. Entahlah..

Serangan tak henti-henti pada KPK. Lain dengan kasus driving Simulator, lain pula dengan ulah para wakil rakyat di DPR-RI. Sejumlah pihak di lembaga (yang seharusnya) terhormat ini masih tak berhenti berencana ingin mengamputasi kewenangan KPK. Pada saat yang beriringan, rencana revisi UU KPK bergulir. Sejumlah kewenangan sentral KPK dipreteli, seperti penyadapan dan pemangkasan kewenangan KPK menuntut koruptor di pengadilan. Dari draft yang beredar terlihat adanya kekuataan yang ingin KPK mandul dalam pemberantasan korupsi.

Sebelumnya, masih ulah Komisi III DPR, lembaga ini ternyata masih menahan anggaran untuk pembangunan Gedung Baru DPR sejak sekitar 4 tahun lamanya. Dengan berbagai alasan, termasuk dengan mengatakan KPK adalah lembaga Ad Hoc, anggaran gedung KPK diberikan tanda bintang.

Dukungan Publik
Namun, bersyukur KPK tidak sendirian. Serangan balik yang nyaris tidak pernah berhenti pada lembaga extraordinary ini disadari sepenuhnya oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari masyarakat yang bekerja sebagai pemulung, loper Koran, tukang ojek, lansia, mahasiswa, pekerja kelas menengah hingga sebagian pejabat Negara. Di tahun 2012, dukungan terhadap KPK yang sempat sangat besar ketika Cicak vs Buaya terjadi, kembali muncul, namun kali ini dalam bentuk yang berbeda dan khas.

Tidak terbayangkan masyarakat berkumpul menyumbangkan koin, receh dan memecah celengan yang mereka miliki agar KPK bisa memiliki gedung baru. Saat itu, seorang pemulung, namanya Irma merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa uang koin sejumlah Rp.1.100,-.Ia bilang, “saya ingin koruptor ditangkap, saya ingin gedung KPK dibangun”. Uang itu mungkin bernilai kecil bagi saya atau anda, tapi bagi Irma jelas tidak. Itulah penghasilannya dari memulung selama setengah hari. Dan ia rela semua diberikan pada KPK. Irma dating setiap hari. Ada juga kisah seorang lansia yang naik kereta dari luar kota, menyerahkan semua tabungannya. Dan begitu banyak kisah lainnya. Semua benci dengan koruptor. Semua berharap pada KPK.

Hal yang sama, dalam bentuk berbeda terjadi di KPK Jum’at malam 5 Oktober 2012 lalu. Ketika polri “mengepung” KPK, masyarakat balik memproteksi KPK. Malam itu, mereka gagal menangkap Novel. Tapi, masyarakat tetap siaga. Esoknya sebuah demonstrasi terjadi di Bundarahan Hotel Indonesia yang menuntut Presiden SBY keluar dari balik dinding istana dan bersikap dalam kegentingan ini.

Itulah sederet catatan miris, harapan sekaligus ancaman terhadap pemberantasan korupsi di tahun 2012. Di tahun ini, Presiden SBY sempat menyampaikan pidatonya yang paling tegas untuk menyelesaikan kisruh Polri vs KPK. Ya, kita boleh apresiasi Presiden. Meskipun inipun berakhir hambar, ketika akhirnya, Presiden SBY menutup tahun dengan pidato yang membelai koruptor justru di hari antikorupsi. Selanjutnya, bagi kita, apa yang ditulis Chairil Anwar dalam puisinya perlu diresapi: kerja belum selesai, belum apa-apa. (*)

*dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 43-44 Tahun I 27 Des 2012 – 9 Jan 2013

One thought on “Kaleidoskop Pemberantasan Korupsi 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s